Selasa, 21 April 2009

duka yang dibalut senyum manis

duka yang dibalut senyum manis

selamat datang:......................
renungan kita

Kartini menikah dengan Djojoadiningrat, yang sudah punya tiga istri dan
tujuh anak. Bahkan putri tertua suaminya hanya terpaut delapan tahun dari
sang Raden Ajeng itu. Perkawinan yang berlangsung pada 8 November 1903 itu
praktis menyudahi perlawanannya terhadap praktek poligami di masyarakat
Jawa. Setelah diboyong ke Rembang menjadi raden ayu di kabupaten, Kartini
tidak lagi bicara soal kedudukan perempuan atau menyerang poligami, bahkan
juga cita-citanya mengenai pendidikan. Sangat boleh jadi ia sudah berdamai
dengan lingkungannya. Ini memang aneh: seorang pemberontak bisa menjadi
begitu lentuk.

Padahal, bagi Kartini, poligami adalah aib dan dosa karena memperlakukan
wanita sewenang-wenang. Itulah serangan-serangannya terhadap praktek
tersebut yang amat tajam dan cenderung emosional. "Bagaimana saya bisa
menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila
bosan pada anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan
mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?" tulis Kartini kepada
Stella Zeehandelaar. Menurut dia, meskipun hal itu seribu kali tidak
disebut dosa dalam pandangan Islam, selama-lamanya dia tetap menganggapnya
begitu. "Dan dapatkah kamu membayangkan siksaan yang harus diderita seorang
perempuan jika suaminya pulang bersama perempuan lain, pesaingnya, dan
harus diakuinya sebagai istrinya yang sah?"

Awalnya adalah Ngasirah. Dia yang melahirkan Kartini pada 21 April 1879.
Waktu itu ayah Kartini, Sosroningrat, masih wedana. Tapi ketika diangkat
jadi bupati, ia menikah dengan Raden Ajeng Moerjam, keturunan bangsawan
Madura. Moerjam-lah yang kemudian menjadi raden ayu Bupati Jepara, bukan
Ngasirah yang telah melahirkan delapan anak. Ngasirah, anak kiai yang
pedagang kopra dari Desa Mayong, Jepara, tergusur. Dia hanya seorang selir
dan tidak berhak tinggal di rumah utama kabupaten. Ia harus memanggil
anak-anaknya sendiri ndoro (majikan), sementara mereka memanggil dirinya yu
(panggilan untuk orang kebanyakan atau kakak perempuan). Bahkan Ngasirah
masih harus merangkak-rangkak dan membungkuk-bungkuk di depan
putra-putrinya sendiri.

Menurut Kardinah, adik Kartini, yang juga dipaksa kawin dengan seorang
patih yang sudah beristri dan punya anak, Kartini tidak malu mengaku ibunya
dari rakyat biasa. Tapi yang disebut Kardinah itu meragukan. Sebab, meski
tidak malu, Kartini sama sekali bungkam mengenai itu. Misalnya ketika ada
yang mencoba menanyakannya. Ia juga tidak pernah menuturkan ihwal ibunya
yang tragis itu dalam surat-suratnya. Malahan J.H. Abendanon, yang
menerbitkan Door Duisternis tot Licht atawa Habis Gelap Terbitlah Terang,
tidak menyebut jelas siapa ibu Kartini, selain tidak mengatakan apa-apa
tentang kehidupan rumah tangga Sosroningrat. Persoalan ibu kandung Kartini
baru muncul setelah pada 1954 H. Boumen menyebutnya secara eksplisit.

Kritik Kartini kepada Islam yang mendukung poligami memang keras. Ia juga
sempat meminta fatwa kepada Snouck Hurgronje, via Abendanon, tentang hak
dan kewajiban perempuan dan anak perempuan dalam hukum Islam. Sebulan
kemudian dia mendapat jawaban: "perempuan di Jawa dalam soal perkawinan
baik-baik saja adanya." Ia kecewa "orang besar" itu telah menentang
perjuangannya. "Masih adakah orang yang dengan tenang mengatakan bahwa
'keadaan mereka baik-baik saja' kalau mereka melihat dan mengetahui
semuanya yang telah kami lihat dan alami?" tulis Kartini kepada Abendanon.
Kartini tak tahu bahwa Snouck, yang sewaktu bermukim di Mekah bernama Abdul
Ghaffar, bukanlah "teladan" dalam perkara yang satu ini. Orientalis itu
kawin dua kali dengan gadis pribumi yang baru 13 dan 17 tahun, yang tidak
diakuinya di depan hukum Belanda. Keturunannya kini bermukim di Bandung.

Kartini sering merasa sendiri dan putus asa soal poligami. "Saya tidak mau.
Mulutku menjerit, hatiku menggemakan jeritan itu ribuan kali." Baginya,
beristri lebih dari satu itu adalah sebuah kejahatan raksasa dan biang
keterpurukan perempuan Jawa. Dan bukan tatanan feodalistik masyarakat Jawa
yang jadi biang keterpurukan perempuan yang sebenarnya.

Kartini seperti tidak melihat sistem yang sebenarnya bertanggung jawab
dalam menghinakan dan menindas perempuan itu, lebih-lebih perempuan
kebanyakan seperti Ngasirah, ibunya. Ia punya keterbatasan untuk melihat
bahwa poligami bisa tampak begitu menjijikkan justru karena ia menjadi
bagian dari poligami, sistem yang Kartini sendiri cukup bahagia menjadi
bagiannya. Toh, akhirnya dia sendiri menikah dengan jenis laki-laki yang
tidak dihormatinya itu.

Betulkah hanya karena tidak kuasa melawan? Di Rembang, ia tidak bicara
tentang kedudukan wanita, tapi bersuara lantang dan bagus tentang rakyat
yang miskin akibat pajak dan politik candu pemerintah. Ia malahan bangga
menceritakan usaha suaminya memberantas candu, yang mendapat tentangan dari
seorang anggota Dewan Hindia yang menyatakan bahwa pemerintah masih butuh
uang. Pada 10 Agustus 1904 ia menulis kepada Ny. Abendanon: "Tengoklah,
jadi bukannya rakyat yang tak mau berhenti mengisap candu, tapi pemerintah.
Pahit, tapi benar, kutuk terhadap orang Jawa adalah suatu kekuatan hidup
bagi pemerintah."

Anehnya pula, kepada sahabat-sahabat Belanda-nya ia mengatakan hidupnya
bahagia di tengah tiga selir (yang bernasib seperti Ngasirah, ibunya
sendiri) dan tujuh anak mereka. Kebahagiaan, kalau benar, yang hanya
sebentar dikecapnya. Ia wafat 17 September 1904, empat hari setelah
melahirkan anak laki-laki.

(17 April 2009)



At 01:27 AM 4/21/09 -0700, you wrote:
>Mas Amir,
> Pernahkah mas membaca biografi KArtini yang tebelnya masya Allah. Aris
> kutipkan beberapa hal uraian dibawah mengenai KArtini. Yang diabwah
> memang sudah banyak dianalisa versi Islam. Sedangkan di buku itu bila
> kita objektif... maka kita pun akan menemukan hal yang tak jauh berbeda.
>
> Kartini saat beliau akhirnya bisa mempelajari Al Quran......maka
> jiwanya yang haus makin terdewasakan. Mas bisa membaca dari surat-surat
> yang ia kirim pada sahabat2nya. Surat Kartini sebelum mendapatkan kajian
> Islam (tercerahkan) berbeda sekali setelahnya. Kartini setelah
> mendapatkan kajian Al Quran lebih berbobot, PD dan berisi serta dewasa,
> sangat kelihatan beliau punya pegangan kuat. Aris kadang berfikir...
> bagian bab ini kenapa jarang sekali disinggung oleh rekan-rekan yang
> memperjuangkan kesetaraan gender.
>
> Satu hal mas Ambon yang patut diketahui.... Kartini menikah dengan
> bupati yang sudah beristri...yah kartini mau dipoligami. Memang Kartini
> menjadi istri yang paling dicintai diantara semua istri-istri yang lain.
> Apakah ini disinggung oleh rekan-rekan kesetaraan jender... apa
> perlu lecek biografi Kartini yang saya baca itu berbohong, padahal buku
> itu dibuat oleh rekan-rekan yang mengaku bahwa buku ini merupakan bukti
> kartini memperjuangkan kesetaraan perempuan. Ah.... sedang didalamnya
> diuraikan kartini menikah dengan bupati yang sudah punya Istri. Kartini
> setuju dipoligami... dan memang Kartini menikah tidak dengan paksaan, dia
> ridhlo dan rela.
>
> selamat membaca semoga bermanfaat.